

VIVERE Group secara resmi mengumumkan kolaborasi strategisnya dengan Rimini Street untuk mengelola dan memperkuat dukungan infrastruktur perangkat lunak SAP milik perusahaan. Kemitraan ini dirancang untuk memastikan kelangsungan operasional bisnis yang andal di tengah lanskap teknologi yang terus berubah.
Keputusan ini memberikan ruang lebih bagi tim teknologi informasi internal guna mengakselerasi inisiatif transformasi digital. Mereka tidak lagi terbebani oleh kerumitan pemeliharaan sistem warisan yang menuntut perhatian terus-menerus.
Pemilihan layanan dukungan pihak ketiga seperti Rimini Support ini merupakan respons langsung terhadap dinamika kebutuhan perusahaan modern. Di tengah tekanan pasar yang menuntut kelincahan atau agility, optimalisasi anggaran teknologi menjadi prioritas utama tanpa mengorbankan stabilitas platform perencana sumber daya perusahaan.
Lanskap teknologi informasi korporat saat ini menuntut adaptabilitas tinggi dalam mengelola sistem perencana sumber daya perusahaan. Banyak organisasi besar menghadapi dilema serupa ketika masa dukungan resmi untuk perangkat lunak inti mereka berakhir.
Mengelola lini bisnis yang luas mulai dari manufaktur, distribusi, hingga kontraktor interior berbasis proyek, PT Gema Graha Sarana Tbk selaku entitas induk sangat bergantung pada infrastruktur komputasinya. Sejak didirikan pada tahun 1984, perusahaan ini mengandalkan sistem SAP ECC 6 yang berjalan di atas platform IBM Db2 sebagai tulang punggung operasional kritikal mereka.
Namun, perusahaan dihadapkan pada tenggat waktu berakhirnya masa dukungan pemeliharaan untuk sistem tersebut dari penyedia aslinya. Kondisi ini umumnya memaksa perusahaan melakukan migrasi ke ekosistem SAP S/4HANA, yang sering kali menuntut investasi modal masif dan durasi implementasi yang sangat panjang.
Proses migrasi konvensional sering kali menguras sumber daya internal dan mengganggu operasional harian. Banyak perusahaan besar menemukan bahwa biaya lisensi baru dan penyesuaian infrastruktur tidak selalu sejalan dengan nilai tambah bisnis yang langsung terasa.
Menyikapi hal tersebut, manajemen melakukan konsultasi strategis bersama firma riset Gartner guna merancang peta jalan teknologi masa depan. Firma riset independen ini membantu memetakan risiko teknis dan finansial dari berbagai skenario migrasi yang ada.
Evaluasi komprehensif tersebut menyoroti bahwa mempertahankan stabilitas sistem inti sambil berinovasi di lapisan aplikasi bisnis sering kali menjadi strategi yang lebih pragmatis. Berdasarkan hasil analisis tersebut, mereka memutuskan bahwa alokasi investasi akan memberikan pengembalian yang jauh lebih tinggi jika diarahkan langsung pada inovasi proses bisnis.
Sebagai perbandingan teknis dan bisnis, pendekatan dukungan pihak ketiga menawarkan perbedaan mendasar dibandingkan migrasi konvensional. Fokus alokasi anggaran pada migrasi konvensional biasanya terserap untuk pembaruan lisensi dan infrastruktur perangkat lunak baru.
Sebaliknya, dengan strategi ini, anggaran tersebut dapat dialihkan sepenuhnya untuk inovasi dan modernisasi bisnis inti. Beban kerja tim internal yang biasanya teruras untuk transisi sistem dan perbaikan teknis kini menjadi lebih ringan.
Tim teknologi informasi menjadi bebas untuk mengeksekusi integrasi sistem dan peningkatan proses bisnis secara proaktif. Stabilitas sistem ekstensi juga lebih terjaga karena pemeliharaan sistem warisan beroperasi optimal dengan dukungan ahli khusus.
Melalui kemitraan ini, tim internal memperoleh serangkaian manfaat langsung yang berdampak pada efisiensi operasional. Berikut adalah rincian manfaat utama yang diperoleh dari pendekatan ekosistem baru ini:
Optimalisasi biaya tercapai melalui penghematan signifikan dari biaya pemeliharaan tahunan perangkat lunak yang sebelumnya membengkak.
Dukungan pakar khusus memberikan akses instan ke tenaga ahli untuk menangani masalah spesifik pada lingkungan perusahaan.
Fleksibilitas modernisasi meningkat, memungkinkan pembangunan sistem baru dan integrasi pihak ketiga di atas platform yang sudah berjalan dengan mulus.
Sutrisno Yao, Head of IT VIVERE Group, menegaskan filosofi perusahaan bahwa teknologi harus melayani kebutuhan operasional, bukan sebaliknya. Ia menempatkan sumber daya manusia, kualitas, dan kelangsungan bisnis sebagai pusat dari setiap keputusan teknologi yang diambil.
“Teknologi seyogianya menjadi fasilitator praktis yang meningkatkan alur kerja tanpa menimbulkan friksi tambahan bagi para penggunanya.”
— Sutrisno Yao, Head of IT VIVERE Group
Kolaborasi ini memberikan jaminan bagi tim teknis bahwa waktu mereka tidak akan habis untuk mengatasi krisis teknis mendadak. Alokasi waktu tersebut kini dapat dialihkan untuk mendesain peningkatan konsistensi proses antar-departemen secara lebih komprehensif.
Nancy Lyskawa, EVP and Chief Client Officer Rimini Street, menyoroti tren korporasi global yang semakin mengadopsi model serupa. Ia menekankan bahwa menurunkan biaya operasional serta membebaskan modal dan talenta bukan lagi menjadi sekadar pilihan di pasar yang kompetitif.
“Perusahaan-perusahaan yang berpikiran maju memilih mitra pihak ketiga tidak hanya untuk menciptakan kapasitas bagi inovasi, tetapi juga untuk mewujudkannya secara nyata di tengah ketidakpastian pasar.”
— Nancy Lyskawa, EVP and Chief Client Officer Rimini Street
Langkah ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam manajemen aset digital perusahaan skala enterprise. Alih-alih terjebak dalam siklus pembaruan perangkat lunak yang mahal, organisasi kini lebih memilih untuk mempertahankan stabilitas sistem inti sambil berinovasi di lapisan aplikasi bisnis.
Strategi ini juga mengurangi risiko operasional yang sering kali menyertai proyek migrasi berskala besar. Dengan menjaga sistem inti tetap stabil, perusahaan dapat memastikan rantai pasok dan proses manufaktur berjalan tanpa interupsi yang berarti.
Ekosistem digital yang tangguh tidak selalu bergantung pada pembaruan versi perangkat lunak secara berkala. Sebaliknya, keberhasilannya diukur dari seberapa efektif teknologi tersebut mendukung tujuan bisnis utama dan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar.
Perusahaan memilih dukungan pihak ketiga untuk menghindari biaya migrasi masif ke versi terbaru, mengalihkan anggaran tersebut untuk inovasi bisnis, serta mendapatkan dukungan teknis yang lebih fleksibel dan responsif tanpa mengganggu operasional harian.
Tim teknologi informasi internal terbebas dari beban pemeliharaan sistem warisan dan perbaikan teknis rutin. Mereka dapat fokus pada inisiatif transformasi digital, integrasi sistem baru, dan peningkatan proses bisnis yang memberikan nilai tambah langsung.
Gartner berperan sebagai konsultan independen yang membantu menganalisis peta jalan teknologi. Hasil analisis mereka membuktikan bahwa investasi pada inovasi proses bisnis memberikan pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan migrasi infrastruktur besar-besaran.
Sumber: Hybridcoid
Tidak ada produk
Kembali ke TokoThis premium .com domain is currently available for acquisition. Secure Tokodigi.com for your digital business, e-commerce brand, or startup.
Don't Show Again View Purchase Options