

Bagi brand skincare baru, produk pertama sebaiknya tidak dipilih hanya karena sedang viral. Produk pertama harus bisa menjawab masalah harian yang terasa nyata, mudah dipahami dalam tiga detik, punya peluang repeat order, dan masih aman dari sisi klaim.
Kalau harus memilih satu kategori paling masuk akal, gel-cream moisturizer untuk skin barrier adalah kandidat paling aman. Kalau modal riset dan uji stabilitas lebih kuat, sunscreen bisa menjadi hero product yang besar. Kalau ingin masuk lewat celah yang belum terlalu penuh, body skincare untuk kulit berjerawat, kusam karena gesekan, dan tekstur kasar bisa lebih menarik dibanding serum wajah brightening biasa.
Produk yang cocok untuk brand baru bukan selalu produk yang paling ramai dicari. Justru yang paling strategis adalah produk yang punya alasan kuat untuk dipakai ulang.
Banyak brand baru langsung ingin membuat serum brightening, acne spot, atau sunscreen karena kategorinya besar. Masalahnya, kategori besar juga berarti kompetisi besar. Konsumen sudah punya pembanding, mulai dari brand lokal, brand Korea, produk dokter, sampai produk marketplace dengan ribuan ulasan.
Produk pertama perlu dilihat sebagai pintu masuk ke kepercayaan. Begitu pembeli mencoba dan merasa cocok, barulah brand punya ruang untuk menjual produk kedua, ketiga, dan seterusnya.
Ada lima pertanyaan yang sebaiknya dijawab sebelum menentukan produk pertama:
Dari kacamata itu, beberapa kategori terlihat lebih sehat untuk founder baru dibanding sekadar mengejar kata kunci populer.
| Ide Produk | Tingkat Kecocokan | Alasan Utama | Risiko yang Perlu Dijaga |
|---|---|---|---|
| Gel-cream moisturizer barrier | Sangat tinggi | Dipakai harian, cocok untuk iklim lembap, mudah dijelaskan | Terlalu mirip dengan produk existing |
| Sunscreen harian tropis | Tinggi | Permintaan kuat dan edukasi pasar sudah matang | Uji SPF, stabilitas, tekstur, dan klaim lebih menantang |
| Body serum untuk jerawat badan dan tekstur kasar | Tinggi | Celah pasar lebih longgar dibanding serum wajah | Edukasi pemakaian perlu jelas |
| Gentle cleanser pH seimbang | Sedang | Mudah diterima dan cocok untuk bundling | Sulit menjadi hero karena dianggap produk dasar |
| Serum noda bekas jerawat yang gentle | Sedang | Masalahnya besar dan mudah dipahami | Pasar sangat padat dan klaim harus hati-hati |
| Retinol beginner | Sedang ke rendah | Menarik untuk konten edukasi | Risiko iritasi dan komplain tinggi |
| Masker viral atau peeling kuat | Rendah | Mudah dibuat ramai sesaat | Repeat order dan trust jangka panjang lemah |
Ini produk yang paling rasional untuk brand baru. Bukan karena moisturizer adalah produk paling seksi, tetapi karena hampir semua rutinitas skincare membutuhkan pelembap. Kulit berminyak tetap bisa dehidrasi. Kulit yang memakai acne treatment tetap butuh dukungan barrier. Kulit yang rutin sunscreen juga butuh base yang tidak membuat pilling.
Celah yang bisa diambil adalah moisturizer yang dibuat khusus untuk cuaca panas, polusi, transportasi motor, ruang ber-AC, dan kebiasaan layering produk. Banyak pelembap masih terasa terlalu berat, terlalu lengket, atau malah terlalu ringan sampai tidak memberi rasa nyaman.
Arah formulanya bisa seperti ini:
Sudut uniknya bukan sekadar “memperbaiki skin barrier”. Hampir semua brand sudah bicara begitu. Cerita yang lebih tajam adalah pelembap untuk kulit yang lelah oleh rutinitas urban. Kulit yang pagi kena panas, siang masuk AC, sore pakai helm, malam masih tergoda exfoliating toner.
Klaim yang lebih aman bisa diarahkan ke membantu menjaga kelembapan, membantu merawat skin barrier, membantu menenangkan rasa tidak nyaman akibat kulit kering, dan mendukung kulit terasa lebih halus. Hindari klaim seperti menyembuhkan eczema, mengobati jerawat, atau memperbaiki barrier dalam hitungan jam tanpa data uji yang kuat.
Produk ini juga enak untuk strategi bisnis. Ukuran 30 ml bisa menjadi entry size. Ukuran 50 ml bisa menjadi produk utama. Mini 10 ml bisa dipakai untuk sampling, bundling, atau bonus pembelian.
Sunscreen adalah kategori yang sangat menarik, tetapi bukan kategori paling mudah. Formulanya harus stabil, klaim SPF harus diuji, teksturnya harus nyaman, dan pengalaman pakainya menentukan repeat order. Kalau lengket, perih di mata, white cast, atau membuat makeup geser, konsumen cepat pindah.
Namun peluangnya besar. Di Indonesia, paparan UV relevan sepanjang tahun. Sumber kesehatan publik juga konsisten menyarankan penggunaan sunscreen broad-spectrum minimal SPF 30 untuk perlindungan UVA dan UVB. Di sisi pasar, sunscreen menjadi salah satu kategori skincare yang tumbuh kuat.
Yang membuat sunscreen brand baru bisa berbeda adalah skenario pemakaian, bukan sekadar angka SPF.
Beberapa konsep yang lebih tajam:
Untuk brand baru, sunscreen sebaiknya tidak diluncurkan asal cepat. Perlu brief formulasi yang jelas sejak awal. Jangan hanya meminta SPF 50 PA++++. Minta juga target sensorial, uji stabilitas panas, potensi pilling, rasa di sekitar mata, kompatibilitas dengan makeup, dan kenyamanan reapply.
Sunscreen bisa menjadi hero product yang kuat, tetapi lebih cocok untuk founder yang punya dana riset, waktu pengembangan, dan kontrol produksi lebih disiplin.
Pasar body care sedang naik kelas. Konsumen tidak lagi melihat body lotion sebagai produk wangi dan melembapkan saja. Ada ruang untuk body skincare yang terasa lebih fungsional, terutama untuk punggung, dada, lengan atas, siku, lutut, paha bagian dalam, dan area yang sering bergesekan.
Ini menarik karena banyak brand masih terlalu fokus ke wajah. Padahal masalah badan terasa nyata. Jerawat punggung mengganggu saat memakai pakaian terbuka. Tekstur kasar di lengan membuat kulit tampak tidak rata. Area lipatan mudah kusam karena gesekan, keringat, dan pakaian ketat.
Arah produknya bisa berupa body serum lotion ringan atau body mist treatment.
Kandungan yang bisa dipertimbangkan:
Konsep ini bisa dibuat lebih manusiawi dengan angle “kulit badan juga butuh skincare, bukan hanya pemutih”. Itu penting karena pasar body care sering terjebak klaim memutihkan. Brand baru bisa tampil lebih dewasa dengan bahasa merawat tekstur, menjaga kelembapan, dan membantu kulit tampak lebih rata.
Produk ini juga bagus untuk konten edukasi. Misalnya cara membedakan jerawat punggung, biang keringat, fungal acne, iritasi gesekan, dan komedo badan. Untuk kasus berat, brand bisa menyarankan konsultasi ke dokter, bukan memaksakan produk sebagai solusi semua masalah.
Cleanser jarang menjadi produk paling viral, tetapi sangat berguna untuk membangun rutinitas. Masalahnya, cleanser mudah dianggap komoditas. Agar tidak tenggelam, brand perlu memilih sudut yang spesifik.
Bukan “facial wash untuk semua jenis kulit”. Terlalu luas.
Lebih baik membuat cleanser untuk orang yang memakai sunscreen setiap hari, tetapi kulitnya mudah kering bila double cleansing terlalu keras. Atau cleanser pagi yang lembut untuk kulit berminyak tetapi dehidrasi. Atau cleanser kedua setelah cleansing balm yang tidak meninggalkan rasa licin berlebihan.
Arah formulanya bisa dibuat sederhana:
Cleanser paling bagus dijadikan produk pendamping. Ia bisa memperkuat hero moisturizer atau sunscreen. Namun kalau menjadi produk pertama, diferensiasinya harus kuat karena konsumen sering membandingkan harga per mililiter.
Bekas jerawat adalah masalah besar. Hampir semua konsumen skincare pernah mengalaminya. Karena itu, serum untuk noda bekas jerawat selalu menggoda. Namun pasar ini sudah sangat padat, terutama dengan klaim brightening, glowing, dark spot, dan acne marks.
Agar tidak generik, jangan masuk sebagai serum “mencerahkan wajah”. Masuklah sebagai serum pemulihan tampilan noda pasca jerawat untuk kulit yang tidak kuat active keras.
Formula bisa diarahkan ke kombinasi gentle:
Bahasa produk sebaiknya menahan diri. Gunakan klaim membantu menyamarkan tampilan noda, membantu kulit tampak lebih merata, atau mendukung tampilan kulit lebih cerah sehat. Hindari janji menghilangkan flek, memutihkan permanen, atau menyembuhkan melasma.
Serum seperti ini butuh bukti lebih rapi. Minimal ada uji pemakaian konsumen, foto progres dengan pencahayaan konsisten, dan edukasi bahwa sunscreen tetap penting. Tanpa itu, serum mudah terdengar seperti ratusan produk lain.
Ada kelompok konsumen yang sudah memakai retinoid, exfoliating toner, vitamin C, acne treatment, atau treatment klinik ringan. Mereka bukan pemula total, tetapi sering mengalami kulit kering, perih, mengelupas, atau sensitif karena terlalu semangat memakai active.
Produk recovery cream bisa menjadi jawaban. Ini bukan obat iritasi dan bukan pengganti dokter. Posisinya adalah pelembap pendukung ketika kulit terasa kering atau tidak nyaman setelah pemakaian active skincare.
Arah formulanya bisa lebih nourishing dibanding gel-cream utama:
Yang menarik dari produk ini adalah sudut edukasinya. Brand bisa mengajarkan kapan harus mengurangi active, bagaimana mengenali over-exfoliation, dan mengapa kulit sehat tidak harus selalu terasa “tingling”.
Produk ini cocok bila brand ingin terlihat lebih expert-led. Namun tone komunikasinya harus bertanggung jawab. Jangan membuat konsumen merasa semua iritasi bisa diselesaikan dengan satu cream.
BACA JUGA: Panduan A-Z Cara Maklon Produk Skincare untuk Brand Baru
Brand baru tidak perlu langsung meluncurkan lima produk. Justru terlalu banyak SKU di awal sering membuat pesan brand kabur.
Rute paling masuk akal bisa dimulai dari satu hero dan satu pendamping.
Rute ini cocok untuk founder yang ingin membangun trust pelan-pelan.
Rute ini cocok untuk brand dengan modal riset lebih besar.
Rute ini cocok untuk brand yang tidak ingin bertarung langsung di serum wajah.
Tidak semua produk populer cocok untuk brand baru. Beberapa kategori terlihat menarik di konten, tetapi menyimpan risiko:
Brand baru sebaiknya tidak membangun trust dari sensasi ekstrem. Lebih baik produk terasa sederhana, tetapi dipakai sampai habis.
Keunikan tidak harus datang dari bahan paling baru. Untuk brand baru, keunikan yang lebih kuat sering datang dari konteks pemakaian.
Misalnya moisturizer yang dirancang agar tidak pilling di bawah sunscreen. Body serum yang dibuat untuk orang yang sering memakai ransel, helm, atau baju olahraga. Sunscreen yang tidak perih di mata saat naik motor. Cleanser yang dibuat untuk membersihkan sunscreen tanpa membuat kulit terasa seperti ditarik.
Sudut seperti ini terasa lebih dekat dengan hidup pembaca. Ia juga lebih mudah diuji, difoto, dan diceritakan.
Agar produk tidak terdengar generik, brief ke pabrik perlu lebih spesifik:
| Elemen Brief | Contoh Arahan |
|---|---|
| Target pemakai | Kulit berminyak, mudah dehidrasi, tinggal di kota panas |
| Momen pemakaian | Pagi sebelum sunscreen dan malam setelah active ringan |
| Tekstur | Gel-cream cepat meresap, tidak lengket setelah 10 menit |
| Finish | Lembap sehat, bukan glowing berminyak |
| Klaim aman | Membantu menjaga kelembapan dan merawat skin barrier |
| Klaim yang dihindari | Menyembuhkan jerawat, mengobati iritasi, memutihkan permanen |
| Uji internal | Pilling test, heat stability, patch test, pemakaian 14 sampai 28 hari |
Produk skincare di Indonesia perlu memperhatikan notifikasi kosmetika, Dokumen Informasi Produk, dan persyaratan klaim kosmetika. Artinya, ide produk tidak boleh hanya bagus untuk konten. Ia juga harus aman secara dokumen, bahan, label, dan klaim.
Mulai Oktober 2026, kosmetik juga masuk kategori yang wajib bersertifikat halal. Untuk brand baru, ini bukan sekadar urusan logo. Halal bisa menjadi bagian dari trust, transparansi bahan, dan kesiapan masuk retail yang lebih luas.
Di tahap awal, founder sebaiknya menyiapkan tiga lapis bukti:
Produk dengan klaim sederhana tetapi buktinya rapi akan lebih kuat daripada produk dengan klaim bombastis tetapi rapuh.
Untuk kebanyakan brand baru, pilihan paling realistis adalah gel-cream moisturizer barrier yang dibuat khusus untuk kulit Indonesia yang mudah gerah, berminyak, dehidrasi, dan sering layering sunscreen. Produk ini punya peluang repeat order, risiko klaim relatif lebih aman, dan bisa menjadi fondasi rutinitas.
Untuk brand dengan modal riset lebih besar, sunscreen tropis bisa menjadi hero yang sangat kuat. Namun jangan masuk ke kategori ini tanpa kesiapan uji dan kontrol kualitas.
Untuk brand yang ingin berbeda dari lautan serum wajah, body serum untuk jerawat badan, tekstur kasar, dan kulit kusam karena gesekan adalah celah yang layak dipertimbangkan. Kategorinya punya masalah nyata, konteks lokal kuat, dan ruang edukasi masih luas.
Brand skincare baru tidak harus terlihat paling canggih. Yang lebih penting, produknya terasa dipikirkan untuk kehidupan sehari-hari pembeli. Di situlah peluang trust dimulai.
Tidak ada produk
Kembali ke Toko