

Banyak brand skincare baru gagal bukan karena produknya buruk. Masalahnya lebih sering muncul jauh sebelum formula dibuat, sebelum desain kemasan dipilih, bahkan sebelum nama brand terasa “aesthetic”.
Target market-nya terlalu kabur.
Produk dibuat untuk “wanita usia 18 sampai 35 tahun yang ingin kulit glowing”. Sekilas terdengar aman. Pasarnya besar. Peluangnya tampak lebar. Tapi di industri skincare, target seluas itu justru membuat brand mudah tenggelam. Semua orang ingin kulit sehat. Hampir semua brand bicara glowing, acne care, skin barrier, brightening, atau anti-aging. Kalau targetnya tidak tajam, pesan marketing jadi generik, formula ikut generik, konten terasa mirip, lalu brand masuk ke perang harga.
Cara menentukan target market untuk brand skincare harus dimulai dari satu pertanyaan yang lebih jujur.
Siapa yang punya masalah kulit cukup mengganggu, cukup sering terjadi, punya daya beli, dan percaya bahwa brand ini adalah solusi yang paling masuk akal untuk mereka?
Jawabannya tidak bisa hanya usia, gender, atau lokasi. Skincare adalah kategori yang dekat dengan rasa tidak nyaman, rasa percaya diri, kebiasaan harian, ekspektasi hasil, risiko iritasi, dan kepercayaan terhadap klaim produk. Maka riset target market harus membaca manusia secara lebih utuh.
Kesalahan umum brand skincare pemula adalah terlalu cepat memilih produk.
“Lagi ramai sunscreen, kita buat sunscreen.”
“Serum niacinamide masih laku, kita buat versi lebih murah.”
“Kompetitor viral karena pink packaging, kita bikin yang mirip tapi beda warna.”
Masalahnya, tren bukan target market. Tren hanya sinyal bahwa ada perhatian pasar. Belum tentu ada ruang yang cukup untuk brand baru. Belum tentu segmen yang disasar masih punya masalah yang belum dijawab. Belum tentu target konsumen percaya pada brand yang baru muncul.
Pasar skincare Indonesia memang masih bergerak. Euromonitor mencatat kategori beauty and personal care di Indonesia tumbuh positif, dengan dorongan kuat dari konsumen muda, social commerce, e-commerce, influencer, halal, hybrid skincare, dan meningkatnya kesadaran self-care. Mintel juga melihat konsumen beauty Indonesia makin selektif. Banyak yang membandingkan produk, mencari deal, dan aktif berinteraksi dengan konten beauty online.
Artinya, pasarnya hidup. Tapi pasarnya juga makin kritis.
Brand tidak cukup hanya ikut tren. Brand perlu menemukan ketegangan pasar. Ketegangan ini biasanya muncul ketika calon pembeli punya kebutuhan yang belum sepenuhnya dipenuhi oleh pilihan yang ada.
Contohnya bukan sekadar “kulit berminyak”. Itu terlalu umum.
Contoh yang lebih tajam bisa seperti ini:
Di titik ini, target market mulai terasa hidup. Ada konteks. Ada hambatan. Ada situasi harian. Ada alasan kenapa seseorang akan memilih satu brand dan mengabaikan brand lain.
Target market skincare yang kuat biasanya lolos dari tiga lensa. Bukan hanya “siapa orangnya”, tetapi juga “apa masalahnya” dan “apa batas aman klaimnya”.
Skincare selalu berangkat dari kondisi atau tujuan kulit. Namun, jangan berhenti di label besar seperti jerawat, kusam, kering, berminyak, atau aging.
Label besar harus dipecah menjadi situasi yang lebih spesifik.
Contoh pertanyaan riset:
Kulit berminyak pada remaja sekolah tidak sama dengan kulit berminyak pada pekerja kantor. Remaja mungkin lebih sensitif pada harga, tren TikTok, dan rasa malu karena jerawat terlihat. Pekerja kantor mungkin lebih peduli tekstur, makeup compatibility, dan tampilan wajah saat meeting.
Masalah kulit yang sama bisa punya motif beli yang berbeda.
Konteks hidup sering menentukan apakah produk benar-benar dipakai sampai habis.
Seseorang bisa cocok dengan serum mahal, tetapi tidak repeat order karena rutinitasnya terlalu rumit. Ada konsumen yang suka ingredients science, tetapi ada juga yang hanya ingin “pakai pagi malam tanpa mikir”. Ada yang rela membayar mahal untuk serum, namun memilih cleanser ekonomis karena dianggap cepat dibilas.
McKinsey menyoroti bahwa konsumen beauty makin menilai value berdasarkan performa dan diferensiasi manfaat. Pada skincare, produk dengan concern spesifik lebih mudah dianggap layak dibayar lebih dibanding produk yang fungsinya terasa standar.
Maka, target market perlu dibaca melalui kebiasaan hidup.
Perhatikan beberapa hal ini:
Dari sini, brand bisa mengambil keputusan yang lebih presisi. Produk untuk pengguna motor harian di kota panas tidak bisa hanya menjual “brightening”. Produk harus terasa ringan, tidak gerah, tidak mudah pilling, dan masuk akal untuk dipakai ulang.
Ini bagian yang sering dilewati, padahal penting untuk brand skincare.
Target market tidak boleh dipisahkan dari klaim produk. Kalau segmennya punya masalah kulit berat, brand harus berhati-hati. Kosmetik bukan obat. Klaim harus tetap aman, wajar, dan bisa dipertanggungjawabkan.
BPOM memperbarui pengaturan bahan kosmetik melalui Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025, dengan penekanan pada keamanan, kemanfaatan, dan mutu. BPOM juga berkali-kali menindak kosmetik ilegal dan produk dengan bahan dilarang seperti hidrokinon, asam retinoat, antibiotik, dan steroid.
Bagi brand, ini bukan sekadar urusan legal. Ini juga urusan trust.
Target market skincare semakin terbiasa melihat overclaim. Mereka melihat produk yang menjanjikan putih dalam beberapa hari, jerawat hilang permanen, pori-pori tertutup total, atau flek lenyap tanpa proses. Klaim seperti ini mungkin menarik perhatian sebentar, tetapi berisiko merusak kepercayaan.
Target market yang sehat harus bisa dijawab dengan klaim yang sehat pula.
Berikut kerangka kerja yang lebih praktis. Bukan teori pemasaran yang berhenti di demografi, tetapi proses riset yang bisa dipakai sebelum briefing formula, menentukan harga, memilih channel, atau membuat konten launching.
Jangan mulai dengan “mau jual ke siapa saja”. Mulai dengan masalah yang ingin dimenangkan.
Misalnya brand ingin masuk ke kategori moisturizer. Jangan langsung menulis target “wanita 18 sampai 30 tahun”. Pecah dulu masalahnya.
Moisturizer bisa menjawab banyak kebutuhan:
Setiap masalah akan membawa formula, harga, kemasan, konten, dan channel yang berbeda.
Brand yang ingin menarget kulit berminyak dehidrasi perlu bicara tentang hidrasi ringan, rasa nyaman, tekstur, dan non-comedogenic feel. Brand yang ingin menarget kulit sensitif perlu bicara lebih tenang, lebih hati-hati, dan tidak terlalu agresif dengan janji hasil.
Satu kategori produk bisa melahirkan banyak market. Pilih satu pintu masuk yang paling kuat.
Di skincare, pembeli tidak selalu pengguna. Pengambil keputusan juga tidak selalu orang yang memakai produk.
Contohnya pada skincare remaja. Pengguna bisa anak usia 13 sampai 17 tahun. Pembeli bisa orang tua. Pengaruh pembelian bisa datang dari TikTok, teman sekolah, kakak, dokter, atau beauty creator.
Kalau brand hanya menulis target “remaja berjerawat”, komunikasinya bisa meleset. Remaja ingin terlihat percaya diri dan tidak ketinggalan tren. Orang tua ingin produk yang aman, terjangkau, dan tidak merusak kulit. Creator mendorong produk yang mudah dijelaskan dalam video singkat.
Satu produk harus mampu menjembatani tiga pihak itu.
Gunakan tabel sederhana ini sebelum menentukan target:
| Peran | Yang Perlu Dipahami | Contoh untuk Skincare Remaja |
|---|---|---|
| Pengguna | Rasa tidak nyaman, bahasa sehari-hari, kebiasaan pakai | Malu karena jerawat terlihat, ingin produk ringan, suka konten singkat |
| Pembeli | Daya beli, rasa aman, alasan percaya | Orang tua mencari produk BPOM, harga masuk akal, klaim tidak berlebihan |
| Pemberi pengaruh | Sumber rekomendasi yang dipercaya | Teman, creator TikTok, dokter kulit, komunitas sekolah |
Kalau tiga peran ini jelas, brand lebih mudah menyusun pesan. Konten untuk pengguna bisa emosional dan relatable. Konten untuk pembeli bisa lebih edukatif. Konten untuk creator bisa dibuat ringkas, visual, dan mudah diuji.
Segmentasi demografi, geografi, psikografi, dan perilaku masih berguna. Namun, sering kali hasilnya terasa kering karena ditulis seperti formulir.
Target market yang kuat menyatukan semua elemen menjadi konteks nyata.
Bandingkan dua contoh berikut.
Contoh yang lemah:
Contoh yang lebih tajam:
Yang kedua lebih berguna. Dari situ brand bisa menentukan tekstur, gaya copywriting, format konten, kemasan, bahkan ukuran produk.
Segmentasi yang baik harus bisa menjawab pertanyaan internal.
Jika segmentasi tidak membantu mengambil keputusan, berarti segmentasi itu belum cukup tajam.
Riset kompetitor sering disalahartikan sebagai mencari produk yang sedang laku, lalu membuat versi mirip.
Padahal fungsi riset kompetitor adalah menemukan celah. Celah bisa muncul dari harga, tekstur, ukuran, klaim, edukasi, pengalaman pemakaian, komunitas, atau channel distribusi.
Saat menganalisis kompetitor skincare, jangan hanya melihat produk terlaris. Baca juga komentar negatif, rating rendah, pertanyaan berulang, dan konten yang paling sering disimpan.
Cari pola seperti ini:
Komentar negatif sering lebih berguna daripada klaim brand. Di sanalah target market bicara tanpa filter.
Brand baru tidak harus mengalahkan kompetitor besar di semua sisi. Cukup menang di satu celah yang penting bagi satu segmen.
Tidak semua segmen layak dikejar. Ada segmen yang besar tetapi terlalu mahal dijangkau. Ada yang sangat spesifik tetapi daya belinya kecil. Ada yang terlihat menarik, tetapi klaim produknya riskan. Ada juga yang ramai di media sosial, namun pembeliannya musiman.
Sebelum memilih target utama, beri skor pada beberapa calon segmen.
| Kriteria | Pertanyaan Penentu | Skor Rendah | Skor Tinggi |
|---|---|---|---|
| Intensitas masalah | Seberapa mengganggu masalah kulit ini? | Sekadar ingin coba | Aktif mencari solusi |
| Frekuensi kebutuhan | Seberapa sering produk dipakai atau dibeli ulang? | Jarang | Rutin |
| Daya beli | Apakah harga ideal sesuai kemampuan segmen? | Terlalu sensitif harga | Mau bayar untuk value |
| Kesesuaian klaim | Apakah manfaat bisa diklaim secara aman? | Rentan overclaim | Bisa dijelaskan wajar |
| Celah kompetitor | Apakah ada ruang yang belum dijawab? | Pasar terlalu penuh | Ada keluhan yang belum selesai |
| Kemudahan channel | Apakah segmen mudah dijangkau? | Sulit ditemukan | Aktif di channel jelas |
| Potensi repeat order | Apakah produk bisa menjadi rutinitas? | Sekali coba | Dipakai harian |
Pilih segmen dengan skor paling sehat, bukan yang paling ramai.
Untuk brand pemula, segmen ideal biasanya tidak terlalu luas, punya masalah nyata, bisa dijangkau lewat channel yang jelas, dan tidak membutuhkan biaya edukasi terlalu berat.
Persona yang dibuat di ruang meeting sering terlalu rapi. Hidup konsumen tidak serapi itu.
Sebelum produksi besar, lakukan validasi ringan. Tidak harus mahal. Yang penting cukup jujur.
Beberapa metode yang bisa dipakai:
Pertanyaan riset sebaiknya tidak menggiring.
Jangan bertanya “Kalau ada moisturizer yang bisa memperbaiki skin barrier, mau beli?”
Tanyakan dengan cara yang lebih natural:
Jawaban seperti ini akan memberi insight yang lebih tajam daripada survei formal yang penuh pilihan ganda.
Target market statement bukan pajangan di deck. Ia harus menjadi alat kerja untuk tim produk, konten, iklan, sales, dan customer service.
Formatnya bisa dibuat sederhana.
Brand ini menargetkan kelompok pengguna yang memiliki kondisi kulit tertentu, berada dalam konteks hidup tertentu, memiliki hambatan tertentu dalam memilih skincare, dan mencari hasil yang realistis melalui produk dengan karakter tertentu.
Contoh target market statement:
Brand ini menargetkan perempuan usia 24 sampai 32 tahun yang bekerja di kota besar, sering berada di ruangan ber-AC, merasa kulitnya kusam dan dehidrasi, tetapi tidak mau memakai rutinitas panjang. Mereka terbiasa membaca review sebelum membeli, sensitif terhadap tekstur lengket, dan lebih percaya pada klaim yang terdengar realistis daripada janji hasil instan.
Dari statement ini, keputusan menjadi lebih mudah.
Produk hero bisa berupa hydrating serum atau moisturizer ringan. Copywriting bisa menekankan kulit terasa segar, lembap, dan nyaman dipakai harian. Konten bisa membahas kulit dehidrasi karena AC, makeup mudah patchy, atau rutinitas dua menit sebelum berangkat kerja. Harga tidak harus paling murah, tetapi value harus terasa jelas.
Target market bukan hanya soal siapa yang dikejar. Brand juga perlu tahu siapa yang tidak dikejar.
Anti-persona membantu menjaga fokus.
Misalnya brand membuat skincare gentle untuk kulit sensitif. Anti-persona bisa berupa pembeli yang mengejar hasil putih cepat, suka bahan aktif dosis tinggi, dan mudah pindah brand karena klaim viral. Mereka mungkin membeli sekali karena penasaran, tetapi bukan pelanggan ideal.
Anti-persona bukan berarti menolak penjualan. Ini membantu brand tidak mengubah strategi hanya karena komentar acak.
Tanpa anti-persona, brand mudah tergoda mengikuti semua permintaan.
Ada yang minta lebih wangi. Ada yang minta lebih cepat putih. Ada yang minta harga lebih murah. Ada yang minta kandungan aktif lebih tinggi. Kalau semua dituruti, brand kehilangan bentuk.
Target market yang benar harus terlihat dalam eksekusi.
Segmen kulit sensitif membutuhkan pendekatan berbeda dari segmen pemburu hasil cepat. Pilihan bahan, tekstur, aroma, dan klaim harus mengikuti tingkat toleransi target.
Untuk target kulit sensitif, komunikasi sebaiknya lebih tenang. Untuk target remaja, edukasi harus sederhana dan tidak mengintimidasi. Untuk target pria pemula, rutinitas perlu terasa praktis.
Harga bukan hanya angka. Harga adalah sinyal posisi.
Jika target market sangat value-conscious, bundling, ukuran kecil, dan promo terencana bisa membantu. Jika target market mencari clinical confidence, harga boleh lebih tinggi selama bukti, tekstur, pengalaman pakai, dan edukasinya kuat.
Produk untuk Gen Z mungkin lebih cepat diuji lewat TikTok Shop, live shopping, affiliate, dan konten pendek. Produk untuk segmen yang lebih dewasa bisa membutuhkan website, marketplace resmi, edukasi panjang, dan customer service yang lebih responsif.
Euromonitor mencatat e-commerce menjadi channel yang sangat dinamis untuk beauty di Indonesia, termasuk skincare, sun care, dan colour cosmetics. Namun, bukan berarti semua brand cukup bermain di satu platform. Channel harus mengikuti cara target mencari, membandingkan, dan membeli.
Konten terbaik bukan konten yang menjelaskan semua manfaat. Konten terbaik membuat target merasa “ini masalah gue”.
Untuk segmen pekerja urban, angle konten bisa dimulai dari kulit kusam setelah lembur. Untuk hijabers aktif, konten bisa membahas rasa gerah, keringat, dan kenyamanan tekstur. Untuk remaja, konten bisa membongkar kesalahan dasar seperti terlalu sering ganti produk.
Konten menjadi lebih kuat ketika berangkat dari momen hidup, bukan hanya bahan aktif.
Beberapa target tampak menarik, tetapi rapuh saat dieksekusi.
Contohnya “orang yang sedang suka skin barrier”. Masalahnya, tren bisa berubah. Kalau brand tidak punya sudut pandang sendiri, perhatian pasar hilang begitu tren pindah.
Segmen yang hanya mengejar hasil instan mudah terpancing overclaim. Ini rawan untuk kategori skincare karena trust jangka panjang lebih penting daripada ledakan penjualan sesaat.
“Semua wanita yang ingin glowing” hampir tidak memberi arahan. Terlalu banyak brand bermain di sana. Biaya iklan naik, diferensiasi melemah, dan konten menjadi mirip kompetitor.
Ada produk yang menarik untuk coba pertama, tetapi tidak masuk rutinitas. Untuk brand skincare, repeat order sangat penting. Target yang punya kebiasaan pakai harian biasanya lebih sehat untuk jangka panjang.
Agar lebih konkret, berikut contoh bagaimana target market memengaruhi strategi.
| Konsep Brand | Target Market yang Lebih Tajam | Produk Hero | Angle Konten | Risiko yang Perlu Dijaga |
|---|---|---|---|---|
| Gentle skincare untuk remaja | Remaja 13 sampai 18 tahun dengan kulit berminyak ringan, baru mulai skincare, dan orang tua ikut memutuskan pembelian | Gentle cleanser, moisturizer ringan, acne spot care kosmetik | Rutinitas dasar, jangan asal campur bahan aktif, kulit sehat dulu baru eksplor | Klaim jerawat harus hati-hati dan tidak terasa seperti obat |
| Urban hydration | Perempuan 24 sampai 32 tahun, pekerja kantoran, kulit dehidrasi karena AC dan makeup mudah pecah | Hydrating serum, gel moisturizer, sunscreen ringan | Kulit lelah setelah lembur, makeup patchy, rutinitas singkat pagi hari | Jangan terlalu teknis sampai terasa dingin dan jauh |
| Men’s sunscreen pemula | Pria 25 sampai 38 tahun yang sering outdoor, belum rutin sunscreen, tidak suka produk lengket | Sunscreen gel atau lotion ringan | Tidak lengket, tidak white cast, tidak ribet, nyaman dipakai kerja | Edukasi harus sederhana tanpa menggurui |
Tabel seperti ini membantu brand melihat apakah target market sudah cukup operasional. Kalau target tidak bisa diterjemahkan ke produk, konten, dan channel, berarti target masih terlalu abstrak.
Target market yang tepat biasanya memberi efek langsung pada kejelasan strategi.
Tandanya bisa terasa seperti ini.
Target market yang tepat bukan berarti brand hanya boleh menjual ke satu kelompok selamanya. Target market adalah pintu masuk. Setelah brand punya basis pelanggan dan data pembelian, segmen bisa diperluas secara bertahap.
Brand besar pun sering dimulai dari segmen sempit yang sangat dipahami.
Ada beberapa kesalahan yang paling sering membuat brand skincare terlihat generik.
Gunakan rumus kerja berikut sebelum masuk ke tahap produksi atau campaign.
Target market yang sehat adalah irisan antara masalah kulit yang jelas, konteks hidup yang spesifik, kemampuan beli yang realistis, channel yang bisa dijangkau, dan klaim produk yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kalau salah satu unsur hilang, strategi mudah goyah.
Masalah kulit tanpa daya beli akan sulit dikonversi. Daya beli tanpa masalah yang kuat membuat produk terasa nice to have. Channel yang ramai tanpa trust membuat biaya akuisisi mahal. Klaim yang menarik tetapi tidak realistis membuat brand rentan kehilangan kredibilitas.
Target market bukan daftar karakteristik. Target market adalah keputusan strategis tentang siapa yang paling layak dilayani terlebih dahulu.
Cara menentukan target market untuk brand skincare tidak cukup dengan memilih usia, gender, dan jenis kulit. Industri ini sudah terlalu padat untuk pendekatan yang dangkal. Konsumen makin pintar membandingkan produk, makin terbiasa membaca review, dan makin peka terhadap klaim yang terdengar berlebihan.
Brand yang punya peluang lebih kuat adalah brand yang memahami masalah spesifik, konteks hidup, hambatan pembelian, batas klaim, dan cara target mengambil keputusan.
Mulai dari segmen yang sempit bukan berarti mengecilkan peluang. Justru itu cara agar brand punya suara yang jelas. Setelah dipercaya oleh satu kelompok yang tepat, ekspansi akan terasa lebih natural.
Pasar skincare tidak kekurangan produk. Pasar kekurangan brand yang benar-benar tahu siapa yang sedang diajak bicara.
Tidak ada produk
Kembali ke Toko