Ketika adzan Maghrib berkumandang dan hidangan sudah tersedia, hal pertama yang ingin dilakukan adalah mengucapkan doa buka puasa dengan benar sebelum menyantap makanan. Tapi bagi banyak orang, momen singkat itu justru memunculkan keraguan doa mana yang harus dibaca ? Yang dimulai dengan ‘Allahumma laka shumtu’, atau yang dimulai dengan ‘Dzahabaz zhama’u’ ?
Keraguan ini wajar karena kedua versi doa buka puasa memang beredar luas di masyarakat, dan keduanya sering diklaim sebagai ‘yang benar’. Kenyataannya, kedua doa tersebut memiliki sumber hadits masing – masing hanya berbeda dalam tingkat kekuatan riwayat. Artikel ini menjelaskan keduanya secara lengkap dan jujur, beserta teks Arab, Latin, terjemahan, dan konteks penggunaannya.
Selain teks doa buka puasa, artikel ini juga memuat doa niat puasa, adab – adab sunnah saat berbuka yang sering terlewat, dan tips menghafal doa dengan mudah. Semua informasi bersumber dari hadits yang bisa dipertanggungjawabkan asal-usulnya.
Penting untuk dipahami sejak awal tidak ada pertentangan antara dua versi doa buka puasa yang beredar. Keduanya berasal dari hadits Nabi SAW, hanya berbeda dalam perawi dan tingkat kekuatan sanad. Berikut penjelasan lengkapnya :
Versi pertama ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai oleh banyak ulama hadits sebagai riwayat yang lebih kuat sanadnya :
| ✦ DOA BUKA PUASA VERSI 1 (RIWAYAT IBNU UMAR)
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ Dzahabaz zhama’u wab tallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah “Telah hilang rasa haus, telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala, insya Allah” Sumber : HR. Abu Dawud no. 2357, Al-Hakim, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al – Albani |
Doa ini dinilai memiliki sanad yang lebih kuat dibanding versi kedua. Syaikh Nasiruddin Al – Albani dalam Shahih Abu Dawud menghasankan hadits ini. Beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Utsaimin juga cenderung menganjurkan doa ini karena kualitas haditsnya.
Versi kedua ini lebih familiar di telinga umat Muslim Indonesia dan sering diajarkan sejak kecil. Diriwayatkan dari Mu’adz bin Zuhrah namun statusnya adalah mursal (terputus sanadnya karena Mu’adz bukan sahabat Nabi SAW) :
| ✦ DOA BUKA PUASA VERSI 2 (RIWAYAT MU’ADZ BIN ZUHRAH)
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaika tawakkaltu wa ‘alaa rizqika afthartu “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakal, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka” Sumber : HR. Abu Dawud no. 2358 (mursal/lemah menurut para ulama hadits) |
Meskipun sanadnya mursal (dinilai lemah oleh sebagian ulama), doa ini tetap boleh diamalkan sebagai doa pribadi saat berbuka prinsip dalam ilmu hadits bahwa hadits dha’if boleh digunakan untuk fadhail amal (keutamaan amalan), bukan untuk menetapkan hukum. Yang terpenting, niat dan ketulusan dalam berdoa lebih utama dari perdebatan versi.
| 📌 Kesimpulan: Doa Buka Puasa Mana yang Digunakan ?
Pilihan terbaik berdasarkan kualitas hadits : gunakan Versi 1 (Dzahabaz zhama’u) sebagai doa utama karena sanadnya lebih kuat. Bolehkah tetap menggunakan Versi 2 ? Ya, tidak ada larangan keduanya boleh diamalkan. Beberapa ulama bahkan menganjurkan membaca keduanya. Yang paling penting : berdoa dengan khusyuk dan penuh keikhlasan, berapa pun versi yang dipilih. |
Melengkapi doa buka puasa, berikut juga teks doa niat puasa Ramadan yang biasa dibaca setelah sahur :
| ✦ DOA NIAT PUASA RAMADAN
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i fardhi syahri Ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta’aalaa “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala” Sumber : Niat puasa (bacaan setelah sahur, sebelum Subuh) |
Catatan : Sebagian ulama berpendapat bahwa niat puasa Ramadan cukup dilakukan sekali untuk satu bulan penuh di awal Ramadan, dan tidak perlu diucapkan setiap malam. Namun mengucapkannya setiap malam juga tidak salah dan dianjurkan oleh banyak ulama fikih.
Membaca doa buka puasa adalah satu bagian dari adab berbuka. Ada beberapa sunnah lain yang dianjurkan saat berbuka yang sering terlewat :
Bagi yang ingin menghafalkan doa buka puasa dengan cepat agar tidak perlu selalu buka catatan setiap hari :
| Aspek | Versi 1 (Dzahabaz Zhama’u) | Versi 2 (Allahumma Laka Shumtu) |
| Perawi | Abdullah bin Umar (sahabat Nabi SAW) | Mu’adz bin Zuhrah (tabi’in, bukan sahabat) |
| Status Hadits | Hasan (lebih kuat) | Mursal/Dha’if (sanad terputus) |
| Sumber | HR. Abu Dawud no. 2357, dihasankan Al-Albani | HR. Abu Dawud no. 2358 |
| Dianjurkan oleh | Syaikh Al – Albani, Syaikh Ibnu Utsaimin | Lazim di masyarakat Muslim Indonesia |
| Boleh diamalkan? | Ya utama | Ya boleh untuk fadhail amal |
Tidak perlu bingung lagi tentang doa buka puasa mana yang benar kedua versi yang beredar di masyarakat berasal dari hadits, hanya berbeda dalam tingkat kekuatan riwayatnya. Untuk mengamalkan yang lebih kuat sanadnya, gunakan versi ‘Dzahabaz zhama’u wab tallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah’ yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan dihasankan oleh Syaikh Al – Albani.
Namun yang lebih penting dari perdebatan versi adalah mengamalkan doa dengan khusyuk, ikhlas, dan penuh kesadaran makna setiap kali berbuka. Gabungkan dengan adab-adab sunnah lainnya menyegerakan berbuka, dimulai dengan kurma atau air, dan tidak langsung makan berlebihan untuk menjadikan momen berbuka sebagai ibadah yang lengkap dan berkah.
Semoga puasa kita diterima Allah SWT dan momen berbuka menjadi saat-saat yang penuh syukur dan keberkahan. Allaahumma aamiin.
Versi doa buka puasa mana yang biasa kamu baca selama ini ? Share di komentar dan kalau artikel ini membantu menjernihkan kebingungan tentang dua versi doa yang beredar, bagikan ke keluarga dan teman yang mungkin juga punya pertanyaan yang sama.
Bookmark halaman ini agar mudah diakses saat waktu berbuka tiba, terutama di hari-hari awal Ramadan saat kamu masih dalam proses menghafal. Semoga ibadah puasamu lancar dan penuh berkah !
Berdasarkan kualitas hadits, doa buka puasa yang lebih kuat riwayatnya adalah ‘Dzahabaz zhama’u wab tallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah’ (HR. Abu Dawud, dihasankan Syaikh Al-Albani). Doa ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, sahabat Nabi SAW. Sedangkan versi ‘Allahumma laka shumtu’ juga boleh dibaca sebagai doa pribadi meski sanadnya dinilai lebih lemah. Keduanya tidak saling menafikan dan boleh diamalkan bersama.
Waktu yang tepat membaca doa buka puasa adalah sesaat sebelum atau sesaat setelah menyantap makanan/minuman pertama saat berbuka yaitu setelah adzan Maghrib berkumandang. Sunnah Nabi SAW adalah segera berbuka begitu adzan berkumandang, tidak menunda-nunda. Doa dibaca dalam kondisi tangan siap memegang makanan/minuman, dalam keadaan khusyuk dan sadar maknanya.
Tidak. Doa buka puasa dibaca saat BERBUKA (setelah adzan Maghrib), sementara niat puasa diucapkan saat akan MEMULAI puasa (umumnya malam hari atau setelah sahur, sebelum Subuh). Niat puasa: ‘Nawaitu shauma ghadin…’ sedangkan doa buka puasa ‘Dzahabaz zhama’u…’ atau ‘Allahumma laka shumtu…’. Keduanya adalah amalan yang berbeda dan dilakukan di waktu yang berbeda.
Dalam fiqih Islam, doa – doa yang berasal dari hadits Nabi SAW dianjurkan dibaca dalam bahasa Arab sebagaimana teksnya. Namun boleh juga menambahkan doa dalam bahasa Indonesia setelah membaca doa Arab bukan menggantikannya. Jika seseorang benar – benar belum hafal, para ulama memperbolehkan membacanya dari teks tertulis sampai hafal, karena niat dan kesungguhan hati lebih utama daripada formalitas hafalan.
Membaca doa buka puasa adalah sunnah, bukan wajib. Puasa seseorang tetap sah meski tidak membaca doa saat berbuka. Namun mengamalkan sunnah ini adalah bagian dari menyempurnakan ibadah puasa dan mengikuti adab Nabi SAW. Selain itu, waktu berbuka adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa menyia – nyiakan kesempatan emas ini tentu sangat disayangkan.
Tidak ada produk
Kembali ke Toko