

Maklon sunscreen terlihat seperti jalan pintas untuk masuk ke bisnis skincare. Brand tidak perlu membangun pabrik sendiri, tidak perlu membeli mesin produksi, dan bisa bekerja sama dengan produsen kosmetik yang sudah punya fasilitas serta tim formulasi.
Namun sunscreen bukan produk skincare biasa.
Di kategori ini, tekstur yang nyaman saja belum cukup. Klaim SPF harus bisa dipertanggungjawabkan. Formula harus stabil. Label tidak boleh sembarangan. Pabrik maklon yang dipilih juga harus memahami regulasi, bukan hanya bisa membuat produk yang wangi, ringan, dan terlihat “viral” di katalog.
Bagi pemilik brand baru, peluangnya tetap besar. Pasar kosmetik Indonesia masih tumbuh, kebiasaan memakai sunscreen makin masuk ke rutinitas harian, dan konsumen semakin terbiasa mencari produk yang cocok untuk kulit tropis. Tantangannya ada pada satu hal yang sering diremehkan sejak awal, yaitu membangun sunscreen sebagai produk yang bisa dipercaya, bukan sekadar produk yang kelihatan bagus saat launching.
Maklon sunscreen adalah kerja sama produksi sunscreen dengan pabrik kosmetik pihak ketiga. Brand biasanya membawa konsep produk, target pasar, preferensi formula, kemasan, dan positioning. Pabrik membantu formulasi, sampel, produksi, pengujian, pengemasan, serta proses dokumen yang berkaitan dengan notifikasi kosmetik.
Model ini cocok untuk brand yang ingin masuk ke kategori sun care tanpa membangun fasilitas produksi sendiri.
Hal yang perlu diperhatikan sejak awal meliputi beberapa bagian penting:
Poin terakhir sering terlambat dibahas. Banyak brand terlalu fokus pada nama produk, warna kemasan, dan pilihan influencer. Padahal pada sunscreen, fondasi bisnisnya justru berada di belakang layar.
BACA JUGA: Panduan A-Z Cara Maklon Produk Skincare untuk Brand Baru
Sunscreen punya posisi unik di pasar skincare. Ia bukan hanya produk “cantik-cantikan”, tetapi juga produk proteksi harian. Konsumen memakainya bukan hanya saat liburan ke pantai. Banyak orang mulai memasukkan SPF ke rutinitas pagi, terutama setelah konten edukasi kulit di media sosial makin sering membahas paparan UV, flek, kusam, skin barrier, dan penuaan dini.
Di sinilah peluang maklon sunscreen menjadi menarik.
Produk seperti toner, serum, atau moisturizer sering bertarung lewat bahan aktif yang sedang tren. Hari ini niacinamide, besok peptide, lusa exosome, lalu bergeser lagi. Sunscreen juga mengikuti tren, tetapi kebutuhan dasarnya lebih stabil. Selama orang tinggal di negara tropis, bekerja di luar ruangan, beraktivitas dekat jendela, mengendarai motor, atau memakai skincare aktif seperti retinol dan exfoliating acid, kebutuhan proteksi UV tetap relevan.
Pasarnya juga tidak hanya satu.
Ada sunscreen untuk remaja yang baru belajar skincare. Ada sunscreen untuk pekerja outdoor. Ada sunscreen ringan untuk pengguna makeup. Ada produk untuk kulit berminyak, sensitif, mudah berjerawat, atau kulit yang sering terasa perih saat memakai filter tertentu. Ada pula peluang untuk body sunscreen, stick sunscreen, tinted sunscreen, dan sunscreen yang mudah dipakai ulang.
Namun peluang besar biasanya mengundang kompetisi besar. Itulah alasan brand baru perlu lebih tajam sejak tahap brief maklon.
Data pemerintah dan pelaku industri menunjukkan pasar kosmetik Indonesia masih ekspansif. Pertumbuhan jumlah pelaku usaha kosmetik juga membuat kategori ini makin ramai. Dampaknya terlihat jelas di marketplace. Produk baru muncul cepat, harga makin agresif, dan klaim manfaat sering dibuat terlalu berani.
Sunscreen berada di titik yang lebih sensitif dibanding beberapa produk skincare lain. Konsumen tidak hanya bertanya apakah produk terasa enak. Mereka juga mulai bertanya apakah SPF-nya benar, apakah ada uji, apakah produknya sudah terdaftar, apakah aman untuk kulit sensitif, dan apakah klaimnya masuk akal.
Kondisi ini mengubah strategi launching. Dulu, brand bisa menang dengan kemasan lucu dan harga promo. Sekarang, sunscreen perlu punya alasan yang lebih kuat.
Misalnya, bukan sekadar “SPF tinggi dan ringan”.
Lebih tajam bila konsepnya diarahkan ke kebutuhan yang spesifik:
Sudut pandang ini membuat produk lebih mudah dibedakan. Di mata konsumen, sunscreen tidak lagi menjadi barang yang sama dengan merek berbeda.
Banyak calon brand datang ke pabrik dengan brief yang terlalu umum. Kalimatnya biasanya mirip, ingin sunscreen SPF 50 PA++++, ringan, tidak lengket, tidak white cast, cocok untuk semua jenis kulit, harga murah, dan cepat jadi.
Brief seperti itu terdengar ideal, tetapi kurang membantu.
Pabrik membutuhkan arah yang lebih nyata. Produk yang ingin cocok untuk semua orang sering berakhir tidak punya karakter. Lebih baik menentukan siapa pembeli paling penting pada tahap awal.
Contoh pertanyaan riset yang perlu dijawab sebelum meminta sampel:
Jawaban dari pertanyaan ini akan memengaruhi hampir semua keputusan. Mulai dari pemilihan filter UV, bahan pendukung, tekstur, kemasan, ukuran isi, biaya uji, sampai cara menulis klaim di materi promosi.
Kesalahan umum dalam maklon sunscreen adalah menganggap SPF paling tinggi selalu paling mudah dijual. Di marketplace, angka besar memang menarik perhatian. Namun sunscreen yang bagus tidak berhenti di angka.
Pengalaman pemakaian sering menentukan repeat order.
Produk dengan SPF tinggi tetapi terasa berat, perih di mata, membuat kulit tampak abu-abu, sulit diratakan, atau pilling saat ditimpa makeup akan sulit dipakai setiap hari. Konsumen mungkin membeli sekali karena penasaran, lalu pindah ke produk lain.
Dalam sunscreen, tekstur bukan bonus. Tekstur adalah bagian dari kepatuhan pemakaian. Produk yang nyaman lebih mungkin dipakai cukup banyak dan dipakai ulang.
Brand perlu membahas beberapa hal teknis dengan pabrik sejak awal:
| Area Keputusan | Kenapa Penting | Risiko Bila Diabaikan |
|---|---|---|
| Filter UV | Menentukan jenis proteksi dan karakter formula | Produk terasa berat, white cast, atau klaim sulit dibuktikan |
| Sistem emulsi | Mempengaruhi stabilitas dan feel di kulit | Produk mudah pecah, berubah bau, atau tidak konsisten |
| Finish | Menentukan penerimaan konsumen | Terlalu greasy untuk kulit berminyak atau terlalu kering untuk kulit sensitif |
| Kemasan | Mempengaruhi higienitas dan stabilitas | Produk mudah terpapar udara atau sulit digunakan sampai habis |
| Uji klaim | Menjadi dasar komunikasi SPF dan manfaat | Klaim rawan dianggap overclaim |
| Label dan iklan | Menentukan kepatuhan sebelum dan sesudah edar | Revisi kemasan, teguran, penarikan promosi, atau kerusakan reputasi |
Pabrik yang baik biasanya tidak langsung menjanjikan semua hal. Justru perlu waspada bila ada pabrik yang terlalu mudah menyetujui semua permintaan, apalagi untuk klaim SPF tinggi, harga sangat rendah, waktu sangat cepat, dan tanpa diskusi bukti uji.
BACA JUGA: Maklon Moisturizer: Cara Membuat Pelembap Wajah Brand Sendiri
Sunscreen termasuk kosmetik tabir surya. Di Indonesia, kosmetik dengan klaim SPF wajib dinotifikasi di BPOM dan dievaluasi dari sisi keamanan, manfaat, serta mutu. Klaim SPF juga tidak boleh berdiri hanya karena angka tersebut terlihat menarik di kemasan.
Ada beberapa area regulasi yang perlu dipahami sejak awal.
Produk kosmetik yang akan diedarkan harus memiliki notifikasi. Dalam praktik maklon, perlu jelas siapa pemilik nomor notifikasi dan bagaimana tanggung jawabnya diatur dalam kontrak.
Jangan hanya bertanya apakah pabrik “bisa bantu BPOM”. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang menjadi pemilik notifikasi, dokumen apa yang disiapkan, berapa lama estimasi proses, dan bagaimana bila ada permintaan revisi.
Klaim SPF harus didukung pengujian yang sesuai. Untuk brand, ini bukan sekadar formalitas. Bukti uji menjadi modal kepercayaan, terutama karena isu overclaim sunscreen pernah menjadi perhatian publik.
Klaim seperti SPF 50, PA++++, broad spectrum, water resistant, sweat resistant, anti-blue light, non-comedogenic, atau dermatologically tested perlu diperlakukan berbeda. Tidak semua klaim bisa ditulis hanya karena bahan tertentu ada di formula.
Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 mengatur penandaan, promosi, iklan, pengawasan, dan sanksi administratif untuk kosmetik. Artinya, risiko tidak hanya ada pada label kemasan. Konten promosi, landing page, live commerce, caption marketplace, dan script KOL juga perlu dijaga.
Sunscreen tidak boleh dipasarkan seolah-olah dapat menyembuhkan penyakit kulit. Klaim juga sebaiknya tidak dibuat absolut. Kalimat seperti “mencegah flek sepenuhnya” atau “melindungi 100 persen dari sinar matahari” berisiko menyesatkan.
Sejak 2025, ketentuan teknis bahan kosmetik mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025. Untuk sunscreen, bagian ini penting karena filter UV dan bahan pendukung harus sesuai daftar, batasan, serta ketentuan yang berlaku.
Brand tidak harus menjadi ahli kimia kosmetik, tetapi perlu cukup paham untuk menanyakan hal yang benar. Minimal, minta pabrik menjelaskan status bahan utama, batas penggunaan, dan alasan pemilihannya.
Produk kosmetik juga masuk fase kewajiban sertifikasi halal. Karena implementasi wajib halal untuk kosmetik mulai berjalan pada Oktober 2026, brand sunscreen baru sebaiknya tidak menaruh halal sebagai urusan belakangan.
Halal pada kosmetik tidak hanya menyangkut bahan hewani. Ada titik kritis pada bahan, pelarut, proses, fasilitas, pembersihan, penyimpanan, dan dokumen rantai pasok. Bila target pasar mencakup konsumen muslim, rencana halal sejak tahap formula akan jauh lebih rapi dibanding mengejar sertifikasi setelah produk telanjur ramai.
Pabrik maklon sunscreen yang baik bukan hanya pabrik yang punya katalog formula. Untuk kategori ini, pilih mitra yang mampu berdiskusi tentang risiko.
Beberapa pertanyaan yang layak diajukan saat seleksi pabrik:
Jawaban pabrik akan memperlihatkan kelasnya. Pabrik yang matang biasanya punya alur kerja jelas, tidak menutup-nutupi batasan, dan tidak memaksa brand mengambil keputusan sebelum konsekuensinya dipahami.
Setiap pabrik punya alur berbeda, tetapi proses maklon sunscreen umumnya bergerak melalui beberapa fase.
Di tahap ini, brand menentukan target konsumen, positioning, harga, klaim utama, benchmark produk, preferensi tekstur, dan rencana kanal distribusi. Semakin jelas brief, semakin hemat waktu revisi.
Pabrik membuat sampel berdasarkan brief. Brand menguji rasa pakai, aroma, finish, pilling, kenyamanan di bawah makeup, dan kesesuaian dengan target pasar. Untuk sunscreen, panel testing kecil bisa sangat membantu karena sensasi produk di kulit sering subjektif.
Produk perlu melewati pengujian yang relevan. Selain klaim SPF, stabilitas formula dan kompatibilitas kemasan perlu diperhatikan. Formula yang terasa bagus pada minggu pertama belum tentu aman secara mutu untuk diproduksi massal.
Setelah formula mengarah final, dokumen notifikasi dan desain kemasan disiapkan. Di sini brand harus menahan diri dari klaim berlebihan. Kemasan yang sudah dicetak massal tetapi perlu revisi akan membakar biaya.
Produksi dilakukan sesuai MOQ. Brand perlu memahami standar inspeksi, hasil QC, nomor batch, masa kedaluwarsa, dan prosedur penyimpanan.
Setelah produk dijual, pekerjaan belum selesai. Review konsumen perlu dipantau. Keluhan seperti perih di mata, pilling, breakout, bau berubah, kemasan bocor, atau tekstur berubah harus dikumpulkan dan diklasifikasikan.
Brand yang serius biasanya punya sistem pencatatan keluhan sejak awal. Ini bukan hanya untuk customer service, tetapi juga untuk pengembangan batch berikutnya.
Produk sunscreen bisa gagal bukan karena pasar kecil, tetapi karena keputusan awal yang buruk.
Kesalahan yang paling sering muncul adalah mengejar formula “mirip brand viral” tanpa memahami kenapa produk itu berhasil. Bisa jadi yang membuat produk kompetitor menang bukan hanya SPF, tetapi rasa ringan, trust terhadap klaim, distribusi, edukasi, atau komunitas.
Kesalahan lain adalah menjadikan harga sebagai satu-satunya senjata. Sunscreen murah memang bisa laku, tetapi margin akan cepat tertekan bila biaya iklan naik, marketplace makin kompetitif, dan kompetitor baru masuk dengan promo lebih agresif.
Ada juga brand yang terlalu percaya pada klaim besar. Semua ingin ditulis di kemasan. Oil control, brightening, anti-aging, blue light protection, no white cast, non-comedogenic, sweat resistant, cocok untuk ibu hamil, aman untuk kulit sensitif, dan hasil terlihat cepat.
Padahal semakin banyak klaim, semakin besar kebutuhan pembuktian dan semakin tinggi risiko ekspektasi konsumen tidak terpenuhi.
Untuk sunscreen, klaim yang sedikit tetapi kuat sering lebih aman daripada klaim panjang yang rapuh.
Sisi unik brand tidak harus selalu datang dari bahan baru. Dalam sunscreen, diferensiasi bisa lahir dari konteks pemakaian.
Contohnya, sunscreen untuk pengendara motor di kota besar. Masalah mereka bukan hanya UV, tetapi juga rasa lengket di bawah helm, keringat, debu, dan kebutuhan reapply yang praktis.
Contoh lain, sunscreen untuk pekerja kantoran yang memakai makeup. Produk seperti ini perlu fokus pada pilling, white cast, finish, dan kenyamanan saat dipakai ulang.
Ada juga peluang untuk sunscreen remaja. Pendekatannya harus ringan, edukatif, dan tidak membuat rutinitas terasa rumit. Harga isi ulang atau ukuran kecil bisa menjadi bagian dari strategi.
Beberapa arah positioning yang bisa dipertimbangkan:
Positioning yang tajam membantu brand menulis konten lebih natural. Artikel, iklan, dan edukasi tidak lagi terasa seperti menyalin brosur bahan aktif.
Modal maklon sunscreen sangat bergantung pada MOQ, kompleksitas formula, jenis kemasan, uji klaim, desain, sertifikasi, dan strategi launching. Karena itu, angka pasti dari satu pabrik tidak bisa disamaratakan ke semua proyek.
Namun struktur biaya biasanya mencakup beberapa pos:
Sunscreen sering membutuhkan biaya validasi lebih serius dibanding produk kosmetik sederhana. Bila modal terbatas, lebih bijak mempersempit target pasar daripada memotong biaya bukti klaim.
Sebelum menyetujui kerja sama, pastikan beberapa hal tertulis jelas:
Kontrak yang baik tidak membuat hubungan menjadi kaku. Justru kontrak yang jelas membuat brand dan pabrik tidak saling menyalahkan saat produk sudah beredar.
Maklon sunscreen adalah peluang bisnis yang menarik, terutama ketika pasar skincare Indonesia masih bertumbuh dan kebiasaan memakai SPF makin kuat. Namun peluang ini tidak cocok untuk pendekatan asal cepat launching.
Sunscreen membutuhkan riset konsumen, formula yang nyaman, bukti klaim, regulasi yang rapi, dan komunikasi yang tidak berlebihan. Brand yang menang bukan selalu yang punya SPF paling tinggi atau kemasan paling ramai. Pemenangnya sering kali brand yang paling memahami momen pemakaian konsumen dan paling disiplin menjaga kepercayaan.
Bila baru memulai, jangan bertanya “sunscreen apa yang sedang viral”.
Pertanyaan yang lebih sehat adalah “masalah sunscreen apa yang belum diselesaikan dengan baik untuk segmen pembeli yang ingin dikejar”.
Dari pertanyaan itu, keputusan formula, maklon, klaim, harga, konten, dan distribusi akan jauh lebih tajam.
Tidak ada produk
Kembali ke Toko